WELLCOME TO MY BLOG

Kamis, 03 Juli 2008

Wakil rakyat, korupsi, atau pekerjaan ?

Wakil rakyat, korupsi, atau pekerjaan ?

Tulisan ini diperuntukkan untuk Rakyat Indonesia yang semakin terpuruk kedalam krisis ekonomi, krisis moral, krisis kepercayaan dan krisis tanggung jawab. Dan untuk wakil rakyat yang menyandang sebutan “ yang terhormat”.

Lagi-lagi anggota DPR tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantas Korupsi dan lagi-lagi rakyat semakin melarat. Dua hal ini yang menjadi cerita lama di bumi Indonesia tercinta ini. Korupsi yang terkait dengan suap menyuap, penggelapan uang negara, penggelapan dalam jabatan, atau korupsi yang terkait dengan benturan kepentingan terus saja terungkap, yang menyedihkan adalah hal ini dilakukan oleh orang yang seharusnya berjuang mewakili rakyat dan nyatanya menguras uang rakyat, tanpa peduli efek besar akibat perbuatannya. Kini kejahatan korupsi justru dinikmati sebagai pekerjaan.

Masalahnya, persoalan etika dan moral ( malu atau tidak ) bergeser menjadi soal lolos atau sial. Hal ini terus mengalir dalam sistem yang berlaku legal dinegara ini, sogok menyogok pengacara, hakim, jaksa, polisi, suap menyuap dalam kedudukan, pemenang tender atau apapun itu, selagi punya nomor rekening semua akan berjalan dengan lancar. Begitulah cerita tragis yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan ini.

Sampai akhirnya rakyat lah yang akan menerima getah dari perbuatan mereka,

Hal ini menunjukkan masalah serius dari negara ini, tidaklah heran bahwa negara ini termasuk kedalam jajaran negara terkorup dari hasil survey Transparency International, Dan tidak menutup kemungkinan para pelaku korupsi semakin bertambah mengingat hukum itu sendiripun dapat diperdagangkan, dan tidak dapat dipungkiri rakyatpun semakin melilit perutnya erat-erat akibat kelaparan, menjamurnya busung lapar, meningkatnya kriminalitas, pudarnya kepercayaan terhadap wakil rakyat, dan hingga akhirnya rakyat menagis darah akibat keegoisan dan ketidakadikan ini.

Kita sudah bosan untuk memperolok bangsa kita sendiri, kita sudah muak menghujat para koruptor, yang perlu kita lakukan adalah Bertindak, bukan menunggu siapa tersangka berikutnya.

1. Pantau terus segala bentuk kecurangan yang ada disekitar kita, karena kecurangan/kejahatan yang besar berasal dari sistem yang paling kecil.

2. Bantu KPK untuk mempermudah menangkap para koruptor

3. Tidak ada tempat istimewa untuk koruptor, tangkap, hukum, dan kucilkan.

4. Jangan melakukan politik yang berselera rendah, menghalalkan berbagai cara untuk kepentingan pribadi dengan melupakan etika dan moral.

5. Jangan sampai semua wakil rakyat banting setir menjadikan korupsi sebagai pekerjaan.

6. Jadilah manusia yang bermartabat, penegak hukum menjauhkan diri dari suap, profesional memegang etika profesinya, dan kembalilah kepada manusia yang berTuhan.